Tags

,

Aku mengipas-ngipas dengan lesu, sebenarnya aku tahu kalau dengan mengipas-ngipas justru membuat tubuhku  menjadi lebih panas, karena dengan mengipas-ngipas berarti aku membuat suatu gerakan, tapi aku sudah tidak tahan dan tak peduli karena udara panas sekali,  seluruh tubuhku sudah mengeluarkan cairan asam termasuk keningku.

2451

Krisis energi terjadi di mana-mana. Salah satunya adalah listrik. Kami saat ini hidup tanpa listrik, bagi kami listrik adalah sesuatu yang mahal sekali. Hanya orang-orang yang sangat kaya, para pejabat dan mereka yang bekerja di pemerintahan yang bisa memperoleh listrik. Di luar itu, listrik diperkenankan digunakan di fasilitas-fasilitas umum seperti rumah sakit dan industri. Tapi penggunaannya dibatasi sesuai aktivitas. Dan kami semua beraktivitas di siang hari.  Sedangkan saat  malam tiba, biasanya listrik sudah tidak diperkenankan untuk dipakai.  Karena itu lah di malam hari, keadaan di sekelilingku, baik di dalam maupun di luar rumah benar-benar gelap gulita bak tinta hitam.

Bagiku malam hari rasanya seperti suatu kebutaan. Karena kami hanya melihat kegelapan. Kami juga tidak bisa menyalakan api. Pemerintah melarang kami menyalakan api di waktu malam demi menghindari kebakaran. Tapi bahkan seandainya larangan itu pun tidak ada, kami tetap tidak akan menyalakan api, karena harga lilin dan korek api sangat mahal. Aku tidak berani menyebutkan minyak, karena minyak adalah sesuatu yang berada di luar jangkauan kami saat ini.

Kami hanya menggunakan api bila memang benar-benar darurat, misalnya untuk seseorang yang sakit dan membutuhkan air hangat atau air panas baik untuk mandi maupun minum obat yang mengharuskan obat tersebut di minum dengan air hangat. Kami sangat jarang memasak, kami biasanya membeli makanan berupa ransum yang  siap saji. Meskipun begitu, keluargaku tetap memasak bila ada acara istimewa. Misal ulang tahunku atau perayaan pernikahan kedua orang tuaku atau pun acara perayaan lain. Untuk menjaga dirimu tetap merasa manusia, kau harus bisa merasakan makanan hangat yang tersaji di meja meskipun jarang, begitulah prinsip ayahku.

Aku memandang beberapa bangunan-bangunan besar yang tampak berdiri kokoh di kejauhan, beberapa jendelanya memancarkan pendar cahaya. Lampu, pikirku. Aku hanya bisa memandang iri ke arah jendela-jendela tersebut. Aku membayangkan suatu ruangan yang terang benderang di balik jendela tersebut. Suatu ruangan di mana ada lampu dan juga pendingin ruangan.  Aku pernah beberapa kali merasakan kesejukan pendingin ruangan, yaitu tatkala aku berada di rumah sakit saat membesuk salah satu temanku yang terpaksa diopname, atau saat aku harus mengurus dokumen di instalasi-instalasi pemerintah. Pendingin ruangan itu terasa sangat sejuk di tubuhku. Anginnya menggelitik rambut-rambut halus di pori-pori kulitku. Sedangkan lampu, kurasa bila ada lampu di malam hari, aku tidak perlu harus merasakan kebosanan bila malam tiba. Karena aku bisa membaca buku selama lampu yang menyinari penglihatanku.

Aku memejamkan mata dan mencoba untuk tidur dalam keheningan. Gelap dan hening, rasanya seperti bisu dan tuli. Bagiku tidur adalah satu-satunya pelarianku untuk melupakan segala ketidaknyamanan yang kurasakan dalam kehidupanku. Ibuku mengatakan dulu kami tidak hidup seperti ini. Dua atau tiga abad yang lalu, setiap rumah, rata-rata memiliki listrik. Bahkan orang-orang miskin pun tetap memiliki aliran listrik di rumah mereka dan tetap bisa menyalakan lampu pada malam hari.

Sambil berusaha untuk terlelap, aku masuk ke dalam cerita-cerita yang pernah diceritakan ibuku.

“Mora, dulu setiap malam kota sangat ramai.  Lampu-lampu neon menyala terang dan suara-suara berisik selalu terdengar hingga pagi.”

Awalnya aku mengira kalau suara-suara berisik adalah orang-orang yang terus berbicara hingga pagi dan aku ingat dengan polos aku bertanya pada ibuku, “Apakah mulut mereka tidak lelah terus menerus berbicara hingga pagi?”

Ibuku tertawa dan menjelaskan kalau suara-suara berisik itu beragam jenisnya dan yang ia maksud bukan hanya percakapan, tapi juga suara ingar bingar musik. Aku hanya tahu satu jenis musik sepanjang hidupku, yaitu nyanyian ibuku. Tapi ibuku menjelaskan, dulu musik tidak hanya berupa nyanyian yang keluar dari mulut. Selain nyanyian mereka dikumandangkan dari mulut, mereka akan dibantu oleh beberapa instrumen agar nyanyian mereka terdengar semakin sempurna lalu sesudah itu direkam.

“Direkam? Tanyaku polos

“Maksud ibu, semua nyanyian mereka akan disimpan dalam satu alat. Jadi nanti bila kau ingin mendengar nyanyian itu, kau tidak perlu menyanyikannya lagi. Kau cukup menekan tombol di alat perekam itu, maka akan keluar sebuah nyanyian yang sama persis dengan saat mereka menyimpannya.”

Aku membayangkan seandainya kami mempunyai alat seperti itu sekarang, mungkin aku bisa merekam suara ibuku saat sedang menyanyi. Dan selanjutnya bila aku rindu pada ibu, aku tinggal menggunakan alat itu untuk mendengarkan suara ibu. Memikirkan ibuku membuatku sedih, meskipun sudah 3 tahun berlalu sejak ibu meninggalkan aku dan ayah untuk selamanya, tapi rasanya aku masih bisa merasakan belaian lembut ibuku di kening dan rambutku. Kecupan dan ucapan selamat tidurnya yang selalu dibisikkan kepadaku setiap malam, lalu hembusan nafasnya yang beraroma mint, dan rambutnya yang seharum bunga mawar.

Entah apa salah kami, sampai kami harus merasakan akibat yang telah diperbuat oleh para leluhur kami hingga terjadi krisis energi hebat. Ayahku pernah mengatakan kemajuan teknologi yang gila-gilaan justru berdampak pada krisis energi, karena pengelolaan yang tidak berimbang. Karena bagaimana pun semua teknologi itu memerlukan bahan bakar atau sumber daya. Sedangkan semua mineral dan hasil tambang telah habis. Energi alternatif seperti air dan matahari masih terbatas penggunaannya dan belum bisa menggantikan sumber energi utama.

Kecuali para orang kaya, maka krisis energi tidak terlalu berdampak pada mereka. Karena sebenarnya, energi-energi itu tidak sepenuhnya habis, hanya saja penggunaannya diperketat dan dijatah oleh pemerintah. Kami yang kurang mampu hanya bisa pasrah menerima, tapi yang lebih berada bisa membeli energi-energi itu. Tentu saja saat ini para ilmuwan berusaha meneliti setiap bentuk energi alternatif untuk mengatasi krisis energi ini. Tapi kalau pun berhasil, aku pesimis kami bisa mendapatkannya. Karena mungkin saja harganya mahal dan mengapa pula mereka mau memberikannya secara cuma-Cuma.

Aku melihat neon-neon dan lampu-lampu indah beraneka warna terpasang di tiap rumah. Musik dan lagu terdengar di mana-mana. Lalu aku, ayah dan ibuku sedang makan malam, Bukan makanan jenis ransum yang biasa kami makan, tapi makanan panas yang baru dimasak oleh ibuku. Rasanya sangat lezat. Ada sup dengan asap yang masih mengepul-ngepul, lalu nasi putih yang hangat dan pulen. Ayam goreng saus mentega kesukannku dan tak lupa hidangan penutup berupa pusing dingin. Selesai makan malam, ayah dan ibu saling berdansa dan aku bernyanyi dengan diringi suatu kotak besar yang bisa mengeluarkan lagu dan musik.

Pekikan keras halilintar dan teriakan angin yang menderu-deru membangunkanku. Hanya mimpi rupanya. Namun aku semakin bertekad, entah bagaimana suatu hari aku akan keluar dari krisis energi ini.

You can read, behind the scene about this story in this link :

http://arynity.blogspot.com/2013/09/writing-challenge-day-12-short-story.html

Advertisements