Tags

, ,

Dilema

Ada seorang wanita muda bernama Farrin. Ia seorang penyendiri. Ia sengaja memiilih tempat kerja yang jauh dari rumahnya, supaya ia punya alasan untuk kost. Farrin tidak menyukai drama yang selalu ada dalam keluarganya. Ibunya cerewet, selalu menuntut ini dan itu, ayahnya  selalu mengekangnya dan suka marah-marah sambil mengeluarkan kata-kata makian kasar. Sedangkan kakaknya suka memaksakan kehendak dan terlalu egois menjadi manusia.

Farrin benci dikekang. Ia benci bila orang lain mulai menilai dirinya seakan mereka lebih mengenal dirinya dibanding ia sendiri. Semua hal itu membuat Farrin memilih bersahabat dengan kesendirian. Baginya kesendirian berarti ketenangan, kesunyian, kebebasan.

Fyan, pria muda yang pernah menjadi tetangga Farrin sewaktu Farrin masih tinggal di rumah orang tuanya. Fyan pindah ke sebelah rumah Farrin saat usianya 14 tahun. Meski bertetangga, mereka tidak dekat. Namun ada suatu kenangan yang menghangatkan hati Farrin tentang Fyan, kenangan yang membuatnya yakin bahwa Fyan adalah pria yang baik. Sewaktu di awal kelas 3 SMP, Farrin pernah diganggu oleh 2 orang anak lelaki yang memang terkenal tukang palak. Fyan yang melihat kejadian itu segera lari menerobos kedua bocah tersebut dan memasang badan untuk Farrin. Nyaris saja terjadi perkelahian kalau saja tidak ada guru yang melihat. Fyan tidak terlalu lama menghabiskan masa remajanya di Jakarta. Saat masuk SMU, Fyan dan keluarganya pindah ke kota lain.

Sepuluh tahun berlalu, sekarang Farrin dan Fyan bertemu kembali. Mereka bekerja di gedung yang sama walaupun berbeda lantai karena mereka bekerja di perusahaan yang berbeda.

Fyan kembali tinggal di rumah yang sama dengan yang dahulu pernah ditempatinya yaitu di sebelah rumah Farrin, namun kali ini ia tinggal sendiri karena kedua orang tuanya memiliki bisnis di luar kota. Rupanya dahulu, sewaktu keluarga Fyan pindah, rumah tersebut tidak dijual dan hanya dikontrakkan ke orang lain. Kebetulan saat Fyan bekerja di Jakarta, rumah tersebut sudah selesai dari masa kontrak jadi Fyan mengambil alih dan  menempati rumah tersebut. Memang jarak kantor cukup jauh dengan rumah, namun tidak masalah karena Fyan naik mobil sendiri. Walaupun untuk itu, ia harus rela berangkat sangat pagi agar tidak terjebak macet dan terlambat sampai di kantor.

Saat Fyan tahu kalau Farrin tinggal di tempat kost, Fyan menyarankan kepada Farrin, “Mengapa kau tidak kembali saja ke rumah orang tuamu? Aku bisa mengantarmu bekerja, gedung kita kan sama.”

Tapi Farrin menolak dengan alasan, ia ingin belajar hidup mandiri. Tidak seperti Fyan yang bisa mengemudi. Farrin tidak pandai membaca arah dan koordinasi, karena itulah Farrin memilih untuk tidak membeli mobil dan mencari alternatif untuk kost di dekat kantornya.

Pada suatu hari Farrin didiagnosa suatu penyakit, namun Farrin tidak ingin memberitahukan mengenai hal itu kepada siapapun dan bertekad akan mengatasinya sendiri. Ia tidak ingin menjadi beban bagi orang lain. Semua penderitaan, rasa sakit, kecemasannya, ketakutannya, ketidaknyamanannya semua ditanggungnya sendiri. Hingga suatu hari Fyan secara tidak sengaja menemukan banyak obat-obatan, foto rontgen dan hasil tes laboratorium di laci meja Farrin, ketika pria tersebut datang untuk mengajaknya makan siang bersama.

Saat Fyan bertanya semua hal tersebut, Farrin tidak punya pilihan dan menjelaskannya.

“Apa keluargamu tahu tentang hal ini?” desak Fyan.

“Tidak, mohon jangan sampai mereka tahu, jangan bicara ke mereka Fyan,” mohon Farrin

Fyan hanya tertegun. Ia berusaha mendebat keputusan Farrin, namun Farrin memberinya ultimatum, “Hargai keputusanku atau kau bukanlah temanku lagi.”

Begitulah, sekarang Fyan juga mengetahui mengenai penyakit Farrin. Walaupun Fyan tidak setuju akan keputusan Farrin, namun pria itu berusaha membantu Farrin sebisanya. Seperti menemaninya ke rumah sakit, mengantarnya ke apotik untuk membeli obat, bahkan ikut mencari tahu mengenai penyakit yang diderita Farrin di internet.

Dua bulan kemudian, penyakit Farrin bertambah parah, sehingga ia harus diopname di rumah sakit. Di pagi harinya Farrin sangat terkejut saat melihat kedua orang tuanya tiba-tiba datang menjenguknya. Mereka sangat sedih, marah dan kecewa karena tidak diberitahu oleh Farrin mengenai sakitnya itu.

Farrin sangat marah terhadap Fyan. Ia tahu, pria itulah yang memberi tahu keluarganya mengenai penyakitnya. Karena itulah saat Fyan membesuknya pada senja hari, Farrin sangat marah padanya.

“Aku tak percaya, kau memberi tahu mereka.”

“Mereka keluargamu Farrin, mereka berhak tahu, tak peduli seburuk apa hubunganmu dengan mereka,” Fyan tampak lelah saat menjawab Farrin.

“Tahu apa kau soal hubunganku dengan mereka!” teriak Farrin nyaris terisak.

Fyan menjawab kesal, “Mengapa kau mempersulit dirimu sendiri, Farrin? Apa yang membuatmu begitu keras kepala dan angkuh?”

“Kau tak tahu keadaanku,” isak Farrin. “Kau tak mengerti perasaanku.”

“Kau sangat egois!” Fyan tidak dapat lagi menahan kemarahannya.  “Semua hanya tentang dirimu dan perasaanmu, kau tak pernah memikirkan perasaan orang lain dan kau tak pernah memikirkan perasaanku.”

Setelah mengatakan itu, Fyan langsung melesat pergi keluar dengan sangat cepat. Farrin masih terdiam, saat ini berbagai rasa berkecamuk dalam dirinya. Marah, kesal, bingung, sedih dan lelah. Untung saja kamarnya kelas 1, jadi sekiranya keributan kecil mereka tidak sampai menggangu patient lain.

Selama 10 hari, Farrin dirawat di rumah sakit. Setelah hari ke 11, dokter sudah mengizinkannya pulang. Kondisinya membaik tapi belum sembuh. Kali ini ia tidak pulang ke tempat kostnya. Keluarganya tidak mengizinkan Farrin tinggal sendirian. Bagaimana pun ia masih sakit dan harus ada yang merawat dan menjaganya.

Sejak pertengkaran mereka, Fyan belum mengunjungi Farrin kembali. Farrin hanya menduga, ia masih marah padanya dan mungkin Fyan akan membencinya. Meski enggan mengakuinya, tapi ada suatu kekosongan dalam diri Farrin semenjak pertengkarannya dengan Fyan. Di satu sisi, ia tak berani menduga mengenai maksud Fyan soal perasaannya. Ia hanya tahu bahwa, ia menikmati persahabatan mereka dan tidak berani membayangkan hubungan yang lebih dari sekedar persahabatan.

Farrin menghabiskan siang dan sore itu dengan membaca buku-bukunya. Rasanya sudah lama sekali ia tidak menyentuh buku. Mungkin ada sisi positif juga dari penyakitnya, karena ia jadi mempunyai waktu untuk membaca buku-buku yang tertimbun di rak bukunya.

Malam harinya, pria itu datang. Melihat dari pakaian yang dikenakannya, Farrin tahu, Fyan sudah pulang dari kantor sejak sore, karena Fyan sudah berpakaian santai dengan T-Shirt dan jeans, aroma sabun terhirup dari tubuhnya. Saat Fyan masuk ke kamarnya, ada keheningan sesaat, sesuatu yang sudah diduga Farrin bahwa, mereka akan canggung dan kikuk saat bertemu.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Fyan, lalu ia menarik kursi di dekat meja komputer Farrin.

“Sudah jauh lebih baik,” jawab Farrin berusaha sesantai mungkin.

“Syukurlah.”

Setelah keheningan yang berlangsung kurang lebih semenit, Farrin memutuskan untuk memulai, “Aku ingin minta maaf atas sikapku terhadapmu pada waktu itu. Kau sudah sangat baik padaku selama ini, dan tidak seharusnya aku menuntut lebih darimu.

“Tak mengapa, aku juga mau minta maaf karena bertengkar denganmu saat kau sedang diinfus,” ucap Fyan tulus.

“Jadi, bagaimana? Apa yang akan kau lakukan?” lanjut Fyan.

“Kurasa, akan dilihat dulu perkembangannya, yang pasti aku tidak boleh terlalu lelah, minggu depan  aku akan ke dokter untuk kontrol,” jawab Farrin. “Mungkin aku akan berhenti kerja, kantor itu terlalu jauh.”

“Benar,” Fyan hanya mengangguk-angguk singkat.

Fyan tampak canggung, ia berusaha mengalihkan perhatian dengan melihat-lihat sekeliling kamar Farrin, lalu memandang teras depan kamar dan melihat keluar sebentar, meskipun langit malam di luar sangat gelap karena tiada bulan dan bintang lalu Fyan kembali ke sisi ranjang Farrin. “Kurasa kau ingin beristirahat, aku pergi dulu. Kalau ada titipan untuk di kantor, serahkan saja padaku dan akan kusampaikan ke mereka.”

“Oke, terimakasih,” Farrin berusaha menjawab sesantai mungkin tapi yang terdengar malah kaku.

Fyan berjalan menuju pintu kamar, membukanya, berbalik menghadap Farrin dan tersenyum lalu menutup pintu dan pergi.

“Fyan!”

Baru 2 langkah Fyan berjalan keluar dari pintu kamar Farrin, terdengar suara Farrin yang berteriak memanggilnya. Teriakannya tidak keras tapi cukup kencang terdengar keluar. Segera Fyan berbalik dan mendatangi Farrin.

Farrin berusaha sekuat tenaga mengumpulkan tekadnya, ia harus tahu apa yang dimaksud Fyan dengan perasaannya.  Harus atau ia akan selalu canggung bila bertemu dengan Fyan dan ia juga tidak mau hatinya dipenuhi kegalauan. Dilihatnya Fyan membuka pintu kamarnya, wajahnya tampak cemas, seolah ada sesuatu yang sedang terjadi.

“Farrin? Ada apa?” Fyan bertanya sambil menghampiri sisi tempat tidur Farrin. Wajahnya terlihat pucat dan tatapan matanya membesar tampak khawatir.

“Se sejak kapan?” tanya Farrin cepat.

Fyan hanya menatapnya, berusaha mencerna kata-kata Farrin. Perlahan-lahan kecemasan di wajahnya menghilang dan sekarang ia tampak merona.

“Sudah sejak lama, tapi kau tak pernah sadar,” ujarnya dengan sangat pelan. “Karena kau tidak peduli.”

“Ke kenapa?” suara Farrin terdengar gugup.

Fyan mendekatkan wajahnya ke Farrin dan kali ini tatapan matanya seperti mengunci mata Farrin.

“Apakah harus ada alasannya?” ujarnya lembut, lalu Fyan memundurkan tubuhnya namun matanya tetap menatap Farrin. “Farrin, kalau ditanya kenapa, aku tidak bisa jawab, karena aku tak tahu.”

“Maksudku, sifatku jelek, mengapa kau suka padaku?” kali ini Farrin sudah lebih tenang.

“Aku juga tak tahu,” jawab Fyan kikuk, lalu ia tersenyum. “Aku hanya tidak ingin menyerah. Aku tidak tahu mengapa kau tampak takut dengan suatu hubungan. Tapi aku hanya tak ingin menyerah.”

Lalu Fyan meraih tangan Farrin dan menggenggamnya dengan perlahan, “Dan aku juga tak ingin kau menyerah Farrin.”

Farrin berusaha memikirkan hal lain, ia tidak ingin air matanya tumpah, ia selalu benci bila sampai orang lain melihatnya menangis. Tapi terlambat, saat ia berkedip setitik air mata sudah mulai mengalir dari ujung matanya.

“Aku sudah lama menyerah karena aku lelah,” bisiknya.

“Kalau begitu mulai sekarang, berjuanglah bersamaku,” lalu Fyan mengusap air mata di pipi Farrin. “Karena aku tidak akan menyerah Farrin. Aku tidak akan menyerah terhadapmu. Dan kau pun juga”

Tekad. Farrin bisa melihat tekad itu di mata Fyan, mata itu sesaat terlihat bagaikana bara api yang menyala dan Farrin tahu, bara api itu juga ikut menjalar ke dirinya karena sekarang hati Farrin terasa hangat.

***

BTW, untuk penjelasannya, ada di post yang di http://arynity.blogspot.com/2013/08/writing-challenge-day-9-write-love-story.html  (ribet amat sih)

Advertisements