Tags

, , , ,

Disclaimer : All characters belong to Capcom

Note : Fanfic ini berdasarkan game Resident Evil. Game bergenre Survival horror sebenarnya bukanlah favorit saya, tapi saya selalu suka kisah star-crossed lovers.  Sejujurnya saya ngga pernah memainkan game tersebut, hanya melihat potongan-potongan cutscenenya dari  youtube. Kejadian dalan fanfic yang saya tulis ini berlangsung 6 bulan setelah peristiwa dalam game Resident Evil 6

Karakter : Ada Wong (untuk memudahkan dan membedakan pelafalan dengan bahasa lokal, saya akan menulis namanya menjadi Eida Wong), Leon Kennedy 

BERTEMU DENGANMU

Aeon-2

Source : http://www.pixiv.net/member.php?id=192727

ADA WONG

2 Januari 2014

Eida menatap cermin dan sekali lagi dia membasuh wajahnya. Api, darah, teriak kesakitan, bau busuk, mayat-mayat yang bergelimpangan, dan tentu saja mereka yang terinfeksi. Itu adalah suatu malam yang tidak akan pernah bisa terlupakan bagi siapapun yang mengalaminya, suatu malam yang penuh kengerian melebihi bayangan apapun yang dapat dibayangkan oleh seorang manusia. Malam yang sama seperti 15 tahun lalu di Racoon City. Dan 6 bulan lalu,  Ia tidak sempat mencegah hal tersebut terjadi kembali di Lanshiang, Cina. Kejadian tersebut bukan saja merengut jutaan nyawa manusia, bahkan mereka yang selamat pun, hidup mereka tidak akan pernah sama lagi.

Ia tahu karena ia sendiri mengalami hal itu, bukan hanya sekali tapi dua kali, Racoon City dan Lanshiang. Sering ia terbangun di tengah malam mengira dirinya telah ikut menjadi bagian dari diri mereka yang terinfeksi atau kalau lebih baik, ia bermimpi saat mereka yang terinfeksi menggigitnya, lalu mencabik-cabik tubuhnya menjadi potongan-potongan kecil daging. Eida jarang mendapati mimpi-mimpi yang ramah, kalau tidak bermimpi mengenai kejadian-kejadian di kedua malam tersebut, ia bemimpi seorang gadis kecil yang menangis sedangkan kedua tangannya berpegangan pada seutas tali yang dipasang sebagai jembatan di atas sebuah kolam penuh sekelompok ikan piranha dan tali itu satu-satunya penyelamat, sebab tali itu akan menjaga agar tubuh gadis kecil itu tidak sampai terjatuh ke dalam kolam.

Ketenangan, mimpi yang indah, tidaklah sering namun hal tersebut tidak mustahil. Rasanya malam ini sungguh berbanding 180 derajat dengan malam sebelumnya. Walau rasaya mulai samar-samar, ia ingat malam di mana ia merasa hangat, damai, dan tidak sendirian.

Dua hari sebelumnya, 31 Desember 2013

Telluride, Colorado

Pergantian tahun adalah peristiwa di mana semua orang selalu tampak lebih bersemangat.  Mereka menatap masa depan dengan penuh keyakinan, meninggalkan semua mimpi buruk dan kesialan di masa lalu dan berharap tahun berikutnya segala sesuatunya lebih baik.

Alunan musik waltz mengalun lembut dari speaker mungil yang diletakkan di sisi pojok gedung restoran. Eida menyesap tehnya sambil menikmati pagi yang tenang. Ia mengambil tempat di dekat sebuah jendela besar yang menghadap langsung ke arah pegunungan dan hutan yang berselimutkan salju bulan Desember. Seorang pelayan laki-laki berusia awal 30-an mendatangi mejanya, si pelayan tersenyum, “Untuk Ms Wong,” ujar si pelayan ramah lalu ia menyerahkan satu buket bunga mawar berwarna merah. “Tampaknya anda mempunyai seorang pengagum misterius.”

Setelah basa basi sedikit, si pelayan langsung pergi. Ia tidak mengatakan dari mana bunga mawar tersebut, ia hanya berkata seorang kurir dari toko bunga diutus oleh seseorang untuk menyampaikan buket bunga tersebut kepada dirinya dan si pelayan memberikan buket bunga itu kepada Eida karena dari kartu ucapan di buket bunga mawar terserbut tertera tulisan, “Untuk Miss Eida Wong.”

Eida membuka kartu ucapan itu yang di dalamnya tertulis;

Kau selalu tampak menawan dalam warna merah

Dengan ekspresi tak acuh, ia kembali menutup kartu ucapan tersebut dan menyimpannya di saku celana jeansnya, tatapannya kembali melihat ke jendela, ke arah hutan dan pegunungan bersalju yang saat ini mulai dipenuhi beberapa orang yang berjalan-jalan sambil membawa peralatan ski mereka.  Telluride adalah tempat yang tepat untuk bermain ski, suasana di kota ini mirip dengan resor-resor ski terkenal di Eropa.

Setelah menyelesaikan sarapannya, ia kembali ke kamarnya. Di kamar ia mengeluarkan kartu ucapan dari si pengirim misterius dan mendekatkannya ke perapian. Perlahan-lahan suatu kata-kata mulai tertampak dalam kartu ucapan tersebut.

PERGILAH KE PONDOK DI TENGAH HUTAN DAN TIBALAH SEBELUM JAM 1 SIANG

Setelah membacanya, Eida melemparkan kartu ucapan tersebut ke parapian dan menatap api yang perlahan menghanguskan kertas menjadi serpihan abu. Menjadi mata-mata bukanlah pekerjaan praktis. Ia harus selalu siap akan setiap perintah kerja yang diterimanya secara mendadak, tidak peduli bila hal tersebut diterimanya saat tengah berlibur. Dengan segera ia mengambil peralatan skinya dan pergi menuju perbukitan.

Lereng yang berkelok-kelok, tanjakan-tanjakan tinggi dan turunan yang curam menjadi tantangan sekaligus kesenangan bagi adrenalinnya. Tidak butuh waktu yang terlalu lama bagi Eida untuk menemukan pondok tersebut yang terselip di tengah-tengan hutan pinus. Pondok tersebut sangat sederhana, sepertinya dibangun bagi para pemain ski yang terlalu lelah dan butuh beristirahat, hanya sekedar tempat persinggahan singkat. Bangunan pondok terbuat dari kayu. Cuaca, angin dan sinar matahari telah membuat kayunya menjadi lapuk.

Eida memasuki pondok tersebut,  pondok itu hanya terdiri dari satu ruangan. Isi ruangan hanya terdapat satu meja, dua kursi dan sebuah rak kayu yang diletakkan di bagian pojok ruangan. Eida melihat bagian langit-langit pondok. Langit-langit pondok terdiri dari palang-palang kayu yang dipasang untuk menopang atap bangunan kayu tersebut. Eida menggunakan grapple gun[1] menembakkannya pada salah satu palang di langit-langit, lalu menarik pelatuk senjata sekali lagi dan seketika tubuhnya terangkat ke atas, dan dilihatnya suatu recoder kecil terselip di salah satu palang penyangga. Eida berpegangan pada salah satu palang,  menyelipkan grapple gunnya ke sabuk di bagian pinggang celananya dan menggunakan kedua tangannya untuk berpegangan pada bilah-bilah palang menuju ke palang di mana recoder kecil tersebut diletakkan.

Setelah mendapatkan recoder tersebut, Eida langsung melompat turun, ia meluncur dan mendarat dengan kaki kirinya terlebih dahulu dan jatuh dengan posisi berlutut. Eida lalu memutar recorder kecil tersebut.

Ms Wong, dalam 3 hari ke depan Menteri Luar Negeri Cina akan berkunjung ke DC.

Seperti yang kau tahu pasca insiden di Tall Oaks dan Lanshiang, hubungan kedua negara semakin tegang.

Kedua belah pihak saling curiga bahwa mereka telah mengembangkan senjata biologis untuk saling menyerang.

Karena itu Menlu Cina berkunjung ke DC guna membicarakan penyebab tragedi tersebut, karena bagaimana pun kedua tragedi itu telah sangat merugikan masing-masing pihak.

Tugasmu adalah memastikan bahwa kunjungan Menlu Cina berjalan lancar dan aman dari gangguan pihak-pihak yang ingin mengacau.

Rekaman ini akan hancur dalam 5 detik.

Dan pesan tersebut berhenti sampai di situ. Eida memperhatikan recoder itu lalu meletakkannya di meja dan beberapa saat muncul asap dari recoder dan sekarang recoder itu hanya seonggok benda rongsokan.

Washington, D.C.

Langit telah gelap saat Eida tiba di Washington, D.C.  Tidak biasanya bagi Eida untuk tiba jauh lebih awal ke tempat di mana ia diberikan tugas. Namun D.C. memberikan keistimewaan tersendiri baginya. Bukan karena tempat itu, namun ada seseorang di ibukota Amerika tersebut yang selalu membuatnya rindu.

Ia tahu di mana pria itu berada. Tapi apa sebenarnya yang ia cari, apa sebenarnya yang ia inginkan? Eida tahu bahwa ia dan pria itu berseberangan dalam segala hal. Mereka tidak akan bisa bersama. Terlalu rumit. Terlalu berbahaya. Tragedi Tall Oaks dan Lanshiang adalah bukti nyata bahwa pekerjaannya tidak akan pernah memberinya kebebasan. Eida mempunyai banyak musuh karena ia tahu terlalu banyak.

Bagi seorang mata-mata yang bekerja untuk banyak pihak, mencintai seseorang adalah suatu kelemahan. Pihak-pihak tersebut bisa saja menggunakan keluarga atau orang yang disayangi sebagai sandera demi mendapatkan apa yang mereka mau. Eida tidak ingin mengambil resiko itu. Bahkan seandainya ia berhenti dari pekerjaannya, jalannya tetap tidak mudah, karena ia sudah tahu terlalu banyak hal yang tidak boleh diketahuinya. Terlalu banyak pihak-pihak yang pernah dikhianati olehnya. Terlalu banyak musuh yang harus dihadapinya. Namun ia tak menyesal dengan pilihan jalan hidupnya, ini sudah keputusannya


[1] Senjata yang dimodifikasi dengan ditambahkan tali dan kait, jadi saat senjata ditembakkan, kait dan tali tersebut akan meluncur ke arah sasaran dan menempel pada sasaran, si pengguna tinggal menarik pelatuk senjata maka secara otomatis tali akan menarik si pengguna ke tempat di mana sasaran kait terpasang.

LEON KENNEDY

Suasana malam itu dingin namun ramai. Orang-orang baik warga lokal maupun turis turun ke jalanan untuk menyambut pergantian tahun. Mereka tampak tak acuh akan cuaca dingin selama di jalanan ada pesta. Hingar bingar musik pun terdengar dari kejauhan dan sampai dalam suara sayup-sayup di sebuah balkon apartemen.

Leon Kennedy meneguk vodka dengan cepat. Mata birunya memandang kegelapan langit malam. Di sinilah ia memilih merayakan malam tahun baru. Rekan-rekannya sesama agent DSO[2] berkumpul dan berbaur dalam pesta tahun baru di sebuah bar lokal di D.C. mungkin seharusnya tadi ia bergabung saja dengan mereka tapi saat itu dirinya tidak sedang dalam mood untuk berpesta, sudah 15 tahun belakangan ini ia tidak bisa menikmati pesta. Setiap kali ia bergabung untuk sekedar bersenang-senang atau hang out bersama teman-teman dan rekan kerjanya, dia hanya mengikuti mereka tanpa pernah merasa bersenang-senang, pikirannya seolah terisolasi, ikut tertawa saat ada yang membuat lelucon meskipun tidak lucu, menimpali dengan lelocon hambar lainnya dan pastinya minum, tapi tidka pernah benar-benar menikmati semua itu. Alkohol dapat membantu untuk membuat pikirannya terasa rileks.

Sebuah suara terdengar dari balik bayang-bayang gelap, “Aku kagum akan kemampuanmu bisa minum banyak tanpa,” suara itu jeda sejenak, “terlihat mabuk, Mr. Kennedy.”

Leon terkejut, tangannya reflek hendak meraih pistol disarung sabuk celananya, namun segera ia tersadar akan pemilik suara tersebut. Suara dengan nada menggoda yang selalu menghantuinya selama bertahun-tahun.

“Suara itu,” ujar Leon dalam hati.

“Eida?” tebak Leon sambil berjalan mendekati pojok pinggiran balkon yang paling gelap, walau tidak mencabut pistol dari sarung sabuknya, ia tetap waspada, tangan kanannya tetap menempel pada pistol di sarung sabuk pinggangnya. Siap menarik keluar pistol tersebut untuk hal-hal tak terduga.


[2] Division of Security Operations. Adalah organisasi anti bio-terorisme yang dibentuk langsung oleh almarhum presiden Amerika Serikat, Adam Benford dan berada langsung dibawah kekuasaan hukum pemerintah Amerika Serikat.  DSO beranggotakan agent-agent terbaik dari seluruh penjuru Amerika. DSO bertujuan untuk mengatasi langsung setiap krisis dan bahaya yang mengancam kelangsungan hidup warga dan masyarakat Amerika, terutama yang berkaitan dengan bio-terorisme.

Sesosok siluet ramping keluar dari bayang-bayang tembok, siluet itu berjalan santai namun pasti mendekati Leon.

“Leon, haruskan kau selalu tegang setiap kali kita bertemu?” Siluet tersebut berbicara lalu menjelma menjadi sosok wanita cantik. Penerangan balkon yang remang-remang menambah aura misterius wanita tersebut.

“Eida?! Leon berusaha mengendalikan suaranya sendiri yang terdengar kaget dan takut. Namun anggota tubuhnya mulai rileks.

“Yah aku. Apakah kau tadi berniat menyambutku dengan pistol?” tanya Eida dengan seringai mengejek.

“Bukan salahku untuk bersikap waspada, terutama untuk seorang tamu yang datang tanpa mengetuk pintu,” jawab Leon sambil tersenyum mencibir.

“Maaf Leon bila kau tak suka, tapi kita berdua sama-sama tahu bahwa caraku melakukan sesuatu tidaklah dengan mengetuk pintu,” sahut Eida kalem.

“Ada apa Eida? Apa yang membuatmu datang ke sini? Apa yang akan kau lakukan? Mengapa kau tiba-tiba muncul dan menampakkan diri seperti ini?” tanya Leon tetap waspada.

Eida tidak menjawab, ia menelengkan kepalanya menghadap panorama malam kota D.C. cuaca terasa semakin dingin, sebersit uap putih keluar dari helaan nafasnya. Walau tanpa melihat, Eida tahu Leon sedang memperhatikan dirinya bak elang mengawasi mangsanya. Pria itu menunggu jawaban.

“Sebagai mantan polisi, kemampuan interogasimu masih bekerja baik,” goda Eida. “Bagaimana kalau kukatakan bahwa kebetulan aku ada pekerjaan di kota ini. Dan karena kau tinggal di kota ini, jadi kuputuskan untuk mampir mengunjungimu,” seperti biasanya Eida menjawab dengan acuh tak acuh, hal yang membuat Leon selalu frustasi.

“Pekerjaan? Apa yang kali ini kau lakukan Eida?”  Leon menatapnya curiga, kedua alisnya bertaut

Eida tampak tidak senang dan terhina, “Kau tahu Leon, agar dugaanmu benar, aku mungkin akan membuat kekacauan.”

“Eida, aku ingin percaya padamu, tapi kau tak pernah memberiku kesempatan untuk mendengarkan penjelasanmu,” Leon berjalan perlahan mendekati Eida.

Eida Wong, perempuan yang selalu menghantui mimpi-mimpinya dan betapa Leon frustasi karena perempuan tersebut selalu muncul dan menghilang dalam hidupnya, dan sering kemunculannya dalam keadaan tidak menyenangkan. Keadaan yang kacau, porak poranda, seolah takdir mempermainkan setiap pertemuan mereka berdua. Mereka pernah sama-sama berjuang untuk tetap bertahan hidup dalam situasi mimpi buruk paling terburuk yang pernah ada. Leon tahu, tidak seharusnya ia berhubungan dengan Eida, perempuan itu adalah mata-mata. Dari yang ia dengar, Eida adalah seorang double atau triple agent yang bekerja untuk banyak pihak. Dan pihak-pihak tersebut tak terkecuali mereka yang sangat berbahaya yang bertujuan mengancam keselamatan hidup banyak orang. Pihak yang sangat dibenci Leon.

Namun Leon tahu, sejak kejadian di Racoon City 15 tahun yang lalu, ia dan Eida telah membentuk ikatan aneh yang mereka sendiri tidak tahu mengapa. Bahkan seandainya mereka musuh, Leon akan tetap melindungi Eida, menjaganya tetap selamat, tetap hidup.

ADA WONG

 “Andai aku bisa menjelaskan Leon,” sebersit nada sedih terdengar dalam suara Eida yang mengalun.

“Selalu terlalu rumit untuk dijelaskan, bukan?” sindir Leon, tapi Eida menangkap rasa kecewa dalam sindiran itu.

“Aku ingin bertemu denganmu dalam situasi normal, tapi tampaknya kau tidak berharap begitu,” ujar Eida dan dia membelakangi Leon bersiap pergi menggunakan grapple gunnya.

“Eida, tunggu!” Secepat kilat, Leon mencengkram lengan Eida, memegang erat lengannya.

“Lepaskan Leon,” ujar Eida.

“Di luar dingin, masuklah dulu dan hangatkan dirimu,” nada suara Leon terdengar tulus.

“Mengapa? Bukankah kau tak percaya padaku? Apakah kau mengundang orang asing ini masuk ke rumahmu?” tanya Eida sinis.

“Pekerjaanku tidak percaya denganmu, tapi aku percaya padamu, Eida. Dan sekarang malam tahun baru, aku tidak ingin membicarakan pekerjaan,” ujar Leon perlahan dan tegas.

Eida menatap Leon, mencari kebenaran dalam mata biru itu. Sebenarnya ini bukanlah pertama kali mereka bertemu dalam situasi normal. Situasi tanpa kekacauan, tembakan dan zombie. Mereka pernah bertemu sebelumnya, beberapa kali walau tidak sering dan singkat.  Pertemuan singkat yang sangat berharga untuk Eida. Pertemuan yang diisi dengan percakapan santai, tidak ada intervensi dari masa lalu ataupun tuntutan masa depan, hanya saat ini yang diteruskan menjadi dekapan intim, ciuman lembut dan sentuhan sensual yang bergelora.

Leon melepaskan genggamannya dan ia memutar tubuh Eida perlahan agar menghadap dirinya secara utuh, lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Eida dan mendekap tubuhnya perlahan.

“Maaf,” bisiknya lembut di telinga Eida.

Kebekuan di wajah Eida tampak mencair, perlahan ia tersenyum lalu ia melingkarkan kedua lengannya di sekeliling leher Leon, “Kau tahu, aku baru tiba dari Telluride malam ini dan aku belum sempat membasuh tubuhku, kau yakin ingin bersamaku?”

Leon tersenyum, ia mendekatkan keningnya ke kening Eida dan berkata, “Kebetulan yang pas, aku pun belum membersihkan diriku, bagaimana kalau malam ini kita mulai dengan mandi dan saling membersihkan diri?”

Eida menjawabnya dengan senyuman, “Baiklah, kuterima tawaranmu,  Mr Kennedy.”

Dan ia menggandeng tangan Eida dan menuntunnya masuk ke apartemen.

Advertisements